Pengertian soal HOTS

Meskipun kurikulum 2013 sudah berjalan beberapa tahun, konsep tentang soal-soal HOTS belum semuanya dapat dipahami oleh guru dengan baik. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang identik dengan model pembelajaran abad 21, project based learning, metode STEM dan soal dengan High Order Thinking Skills. Agar para guru dapat melaksanakan kurikkulum 2013 dengan baik, maka para guru diwajibkan mengusai konsep serta mengaplikasi konsep-konsep tersebut dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas.

Apa itu soal HOTS?

Soal-soal HOTS merupakan instrumen pengukuran yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, yaitu kemampuan berpikir yang tidak sekadar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite).  Soal-soal HOTS pada konteks asesmen mengukur kemampuan:

  • transfer satu konsep ke konsep lainnya,
  • memproses dan menerapkan informasi,
  • mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda,
  • menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah, dan
  • menelaah ide dan informasi secara kritis.

Soal-soal yang berbasis HOTS tidak berarti soal yang lebih sulit daripada soal recall.

Dilihat dari dimensi pengetahuan, soal HOTS mengukur dimensi metakognitif, tidak sekadar mengukur dimensi faktual, konseptual, atau prosedural saja. Dimensi metakognitif menggambarkan kemampuan:

  • menghubungkan beberapa konsep yang berbeda,
  • menginterpretasikan,
  • memecahkan masalah (problem solving),
  • memilih strategi pemecahan masalah,
  • menemukan (discovery) metode baru,
  • berargumen (reasoning), dan
  • mengambil keputusan yang tepat.

Dimensi proses berpikir dalam Taksonomi Bloom yang telah disempurnakan oleh Anderson & Krathwohl (2001), terdiri atas kemampuan: mengetahui (knowing-C1), memahami (understanding-C2), menerapkan (aplying-C3), menganalisis (analyzing-C4), mengevaluasi (evaluating-C5), dan mengkreasi (creating-C6).

Soal-soal HOTS pada umumnya mengukur kemampuan pada ranah menganalisis (analyzing-C4), mengevaluasi (evaluating-C5), dan mengkreasi (creating-C6).

Pemilihan kata kerja operasional (KKO) untuk merumuskan indikator soal HOTS, hendaknya tidak terjebak pada pengelompokkan KKO.  Contoh kata kerja ‘menentukan’ pada Taksonomi Bloom ada pada ranah C2 dan C3. Dalam konteks penulisan soal-soal HOTS, kata kerja ‘menentukan’ bisa jadi ada pada ranah C5 (mengevaluasi), ketika untuk menentukan keputusan didahului dengan proses berpikir menganalisis informasi yang disajikan pada stimulus lalu peserta didik diminta menentukan keputusan yang terbaik.  Bahkan kata kerja ‘menentukan’ bisa digolongkan C6 (mengkreasi) bila pertanyaan menuntut kemampuan menyusun strategi pemecahan masalah baru. Jadi, ranah kata kerja operasional (KKO) sangat dipengaruhi oleh proses berpikir apa yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan.

Penyusunan soal-soal HOTS umumnya menggunakan stimulus. Stimulus merupakan dasar untuk membuat pertanyaan. Dalam konteks HOTS, stimulus yang disajikan hendaknya bersifat kontekstual dan menarik.
Stimulus dapat bersumber dari isu-isu global seperti masalah teknologi informasi, sains, ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur.

Stimulus juga dapat diangkat dari permasalahan-permasalahan yang ada di lingkungan sekitar satuan pendidikan seperti budaya, adat, kasus-kasus di daerah, atau berbagai keunggulan yang terdapat di daerah tertentu.
Kreativitas seorang guru sangat mempengaruhi kualitas dan variasi stimulus yang digunakan dalam penulisan soal HOTS.

Karakteristik soal HOTS

  • Mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi
  • Berbasis permasalahan kontekstual
  • Menggunakan bentuk soal beragam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

36 − 34 =